Langsung ke konten utama

NILAI AKADEMIS VS PENGALAMAN & KEMAMPUAN (SKILL)

Pendidikan merupakan bekal utama bagi masa depan setiap orang. Peranannya begitu penting bagi kemajuan dan peningkatan kualitas kehidupan setiap orang dimasa yang akan datang. Bahkan tingkat kemajuan peradaban sebuah bangsa juga dapat dinilai dari tinggi rendahnya tingkat pendidikan warganya. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakatnya menandakan tingginya kesadaran akan pentingnya peningkatan pemahaman akan kebutuhan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.

Pemahamam masyarakat kita dewasa ini cenderung memaknai pendidikan sebagai sebuah hasil akhir bukan merupakan proses yang berkelanjutan. Kecenderungan mengambil kesimpulan instan terhadap adanya hasil dengan melupakan proses yang terjadi sebelum dan sesudahnya. Contoh yang paling nyata adalah tatkala nilai rapot, transkrip, hasil ujian akhir maupun nasional yang jauh dari memuaskan. Jika dulu standart nilai 6 ke atas para pendidik kita memiliki kencenderungan menggunakan tinta hitam dalam penulisannya. Sedangkan nilai 6 ke bawah menggunakan tinta berwarna merah. Sehingga apabila nilai yang dihasilkan oleh peserta didik cenderung kebanyakan angka 6 ke bawah, maka seringkali disebutkan rapot atau nilainya kebakaran oleh sebab terlalu banyaknya angka merah. Jika hal di atas terjadi, dapat dipastikan bahwa orang tua kita akan meninggikan amarahnya dengan berupaya menyalahkan ketidak mampuan kita mendapatkan nilai lebih baik dari peserta didik lainnya.

Pendidikan bukanlah merupakah proses singkat yang akan didapatkan oleh setiap orang yang kemudian akhirnya akan mampu digunakan untuk menaikkan derajat dengan pekerjaan yang membuat diri kita nyaman dan aman dalam mengupayakan penghasilan, Bukan itu ! Pendidikan merupakan sebuah proses yang panjang dan berkesinambungan alias terus menerus. Sebab, sesungguhnya pendidikan itu akan berlangsung sepanjang kehidupan.

Sebagai orang tua, kita cenderung melupakan proses yang terjadi sebelum dan sesudah munculnya hasil atau nilai bagi putra-putri kita. Tindakan menghakimi sepihak dengan menyalahkan anak-anak kita yang menurut kita tidak belajar secara optimal, terlalu banyak bermain, kurang fokus atau terlalu banyak waktunya dihabiskan untuk kegiatan ekstra kurikuler rasanya tidaklah tepat.

Yang seringkali terjadi, ekstrakurikuler disalahkan secara sepihak. “Ini gara-gara terlalu sering ikut kegiatan kepramukaan, Paskibraka, PMR sehingga akhirnya nilai rapot anjlok, …… Sudah, mulai sekarang tidak usah ikut-ikutan ekstrakurikuler,…. Blablabla, …” kata-kata ini seringkali menjadi senjata terampuh orang tua untuk menyalahkan putra-putrinya ketika nilai rapot yang diharapkan jauh dari kenyataan.

Bahkan kita cenderung melupakan proses yang terjadi sebelumnya, bagaimana proses pembelajaran putra-putri kita dirumah, sudahkah kita memperhatikan metode belajarnya, apakah kita juga mentradisikan hal yang sama bagi diri kita dan keluarga tatkala kita memerintahkan anak-anak kita belajar, kita juga ikut belajar hal lain ataukah malah kita sendiri keasikan dengan sinetron, hiburan di televisi, facebook atau kegiatan lainnya yang justru tidak mencerminkan kencenderungan keteladanan. Yang lebih parah lagi, kita cenderung menyalahkan proses diluar yang sesungguhnya memberikan bekal kemampuan dan pengalaman bagi putra-putri kita dimana bekal itu tidak didapatkan pada pembelajaran akademis/pelajaran disekolah sehari-hari.

“Apa sih yang kamu dapatkan dengan ikut Pramuka, Paskibraka, PMR dan ekstrakurikuler yang lain?? … Pertanyaan itu seringkali saya dapatkan dari banyak orang yang hanya memahami bahwa bekal kehidupan itu hanyalah nilai akademis semata. Mereka melupakan jika bekal yang sesungguhnya adalah nilai pengalaman dan kemampuan alias skill. Saya menyebutnya sebagai pertanyaan dangkal dari para akademis alias orang pintar. Sesungguhnya jika nilai rapot anak-anak kita ada kencederungan jauh dari harapan, mestinya kita harus melakukan evaluasi adakah yang salah dengan mereka secara menyeluruh, bukan malah menyalahkan ekstrakurikuler yang juga berperan aktif memberikan bekal pengalaman dan kemampuan untuk peningkatan kehidupan mereka dimasa yang akan datang.

Pertanyaan diatas seringkali saya jawab dengan pertanyaan balik kepada mereka, yakni :
“Anda pernah minum Jamu ?? … Sampai habis tak tersisa ?? … “, kebanyakan mereka akan menjawab “Iya, sering malahan, .. “, …. “Nah, sama seperti itu, .. “ jawab saya kemudian. Bingung ??, .. sebagian besar begitu. Biasanya saya akan memberikan ulasan setelahnya, bahwa aktifitas kita dikegiatan Pramuka, Paskibraka, PMR atau yang lainnya itu ibarat minum jamu sampai tandas tak tersisa sedikit pun. Pahit memang, tidak enak dilidah rasanya namun setelah itu anda akan mendapatkan kesehatan dan kebugaran yang dapat anda jadikan bekal utama untuk berkarya terbaik dalam kehidupan anda. Minum jamu itu harus tuntas tidak bisa setengah-setengah jika ingin mendapatkan manfaatnya secara totalitas. Begitupun juga dengan manfaat yang didapat mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, keikut sertaan kita haruslah totalitas bukan setengah-setengah jika kita mengharapkan kemanfaatan secara menyeluruh.

Sesungguhnya, mereka yang selain mengupayakan nilai akademis yang terbaik juga masih aktif dikegiatan ekstrakurikuler seperti halnya Pramuka, Paskibraka, PMR dan lain-lain, sedang melakukan penempaan diri secara terus menerus untuk mendapatkan percepatan kemandirian, pola pikir kedewasaan, pembelajaran kepemimpinan, kepatuhan dan kepatutan, kejujuran, proses pembelajaran penyadaran perbedaan, saling menyayangi dan masih banyak nilai utama kehidupan yang sedang mereka pelajari lebih cepat dari teman sebayanya yang tidak mengikuti kegiatan tersebut.

Bayangkan, jika disaat diluaran sana teman-teman putra dan putri kita yang sebaya sedang berhura-hura, santai, bersenang-senang tak karuan, bermalas-malasan. Putra-putri kita sedang melakukan aktifitas penempaan diri dan mental melalui pembelajaran dalam proses yang dibangun dikegiatan ekstrakurikuler Pramuka, Paskibraka, PMR dan lain-lain. Maka bisa dipastikan, siapakah diantara keduanya yang akan mampu mandiri dan memilik pola pikir kedewasaan yang lebih cepat. Sebagai orang tua tentunya kita akan mampu mempertimbangkan hal ini.

Nilai akademis bukanlah hal yang paling utama, kegiatan pembelajaran di ekstrakurikuler bukanlah merupakan penyebab jatuhnya nilai akademis putra-putri kita, kegiatan ini justru akan menjadikan mereka memilik pengalaman dan kemampuan lebih dibanding yang lainnya. Banyak nilai kemanfaatan yang mampu diraih demi peningkatan masa depan.

Tidak sedikit contoh yang telah ada, bahwa nilai akademis bukanlah segalanya. Banyak mereka yang menyalahkan kegiatan ekstrakurikuler tidak menyadari, waktu untuk ekstrakurikuler disekolah hanyalah 1 (satu) minggu sekali. Jika dibandingkan dengan waktu pembelajaran secara akademis/pelajaran di sekolah maupun waktu luang yang dimiliki selama dirumah rasanya jauh dari keabsahan dijadikannya alasan penyebab anjloknya nilai putra-putri kita secara akademis.

Suatu kali HP saya bergetar secara terus menerus, setelah saya angkat dan melihat layar HP muncul nama seorang teman Direktur sebuah Sekolah Tinggi Manajemen Bisnis di Jawa Timur. Singkat kata, ternyata saya diminta untuk menjadi Dosen mengampu salah satu mata kuliah di Perguruan Tinggi yang dia pimpin. Secara pengalaman dan kemampuan / skill saya rasa cukup mumpuni untuk mengampu mata kuliah tersebut. Masalahnya, Ijazah Pendidikan tinggi belum keluar karena harus menunggu beberapa lamanya. Hal ini telah saya sampaikan, namun teman saya tersebut tetap meminta saya untuk mengajar mata kuliah dimaksud. Akhirnya, sampai hari ini saya tetap mengajar di kampusnya dengan pengalaman dan kemampuan yang saya miliki.

Lain waktu, Kakak angkat saya yang kebetulan jebolan ITS yang juga seorang Konsultan Manajemen Mutu ISO yang telah mengantongi Black Belt USA Certificate meminta saya untuk mengisi pelatihan Management Supervisory pada Perusahaan Yamaha wilayah Jawa Timur, Kalimantan Timur dan  NTB. Awalnya saya menolak, oleh sebab saya tidak memiliki sertifikasi untuk hal itu. Waktu itu usia saya baru 28 tahun. Namun, beliau tetap saja ngotot meminta saya untuk ikut mengisi pelatihan tersebut. Akhirnya saya beranikan diri untuk terlibat langsung pada pelatihan tersebut. Hasilnya, setiap kali ada pelatihan yang secara pengalaman dan kemampuan saya miliki, saya selalu dilibatkan dengan fee jauh melebihi gaji saya sebagai tenaga IT di Instansi Pemerintahan maupun sebagai seorang Dosen.

Gila, begitu teman-teman saya seringkali bilang tatkala saya bercerita tentang hal itu. Itu hal yang kecil menurut sebagian orang, namun pengalaman dan kemampuan yang mahal bagi saya. Bahkan kakak angkat saya bilang, “Justru, kamu lebih hebat dari saya, saya ketika mengawali menjadi seorang konsultan di Jakarta baru belajar dan bisa berbicara didepan peserta pelatihan usia saya waktu 33 tahun, itu pun jika dinilai dan dievaluasi kemampuan saya dalam memberikan pelatihan tidak ada yang bernilai B atau C, apalagi A. Semuanya D alias jauh dari kelayakan, nah sedangkan kamu ?, usia 28 tahun, kemampuan berbicara dan melatih luar biasa, ….”, kalau sudah begini, saya hanya bisa senyam-senyum saja mendengar pujiannya.

Kemampuan yang membuat saya akhirnya mau menerima tawaran menjadi Dosen, mengisi berbagai pelatihan dan lokakarya ditengah banyaknya kesibukan yang saya miliki, sesungguhnya saya dapatkan BUKAN DARI NILAI AKADEMIS selama saya bersekolah semata. Justru PENGALAMAN DAN KEMAMPUAN/SKILL itu saya dapatkan selama saya menjadi Ketua OSIS semasa SMP dan SMU, Menjadi Ketua OSIS terbaik SMU Se-Kabupaten Sidoarjo, Juara 3 Siswa Teladan tingkat SMP se-Kabupaten Sidoarjo, Juara 2 Lomba Pidato P4 se-Kabupaten Sidoarjo, Sekretaris Umum dan Ketua DKC Pramuka Sidoarjo, Ketua Panitia Perkemahan Wirakarya Pramuka Sidoarjo, Wartawan Kronik Pelajar Surabaya Post, Petugas Paskribaka HUT Proklamasi Kabupaten Sidoarjo, anggota LSM Lingkungan Nasional Klub Tunas Hijau dan banyak pengalaman selama berkecimpung di organisasi yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu.

-----------*****-----------

Komentar

Postingan populer dari blog ini

E-BOOK BERMANFAAT

Beberapa waktu silam saya sempat browsing untuk menjari E-book yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan kita dalam berinternet. Setelah melakukan penelusuran sana-sini akhirnya mendapatkan E-book yang sangat bermanfaat bagimereka yang ingin mahir dalam berinternet. Namun sayang waktu itu E-book tersebut tidaklah gratis. Namun, bagi anda yang juga berkeinginan kuat untuk memiliki E-book tersebut, jangan khawatir, karena waktu itu saya hanya membayarnya lewat transfer pulsa Rp. 5.000,- kepada pemilik E-book tersebut. Setelah transfer pulsa terkirim, saya melakukan konfirmasi ke nomor Hpnya untuk meminta dikirimi password E-book tersebut. Alhamdulillah akhirnya dapat juga, E-book dengan harga yang sangat murah. Tentunya sangat membantu saya untuk memahami tentang dunia Internet. Anda tertarik seperti yang saya lakukan ?? ... Apalagi E-book tersebut juga bisa dijual ulang alias Reseller. Jika Anda tertarik, silahkan download E-book di bawah ini. 1. E-book I,   ...

SERPIHAN CINTA

Serpihan Cinta Untuk Bangsa Memahami cinta rasanya seperti memahami dunia akan seluruh isinya. Menyenangkan dan sangat menawan untuk ditelusuri dari setiap sisi. Bahasa apapun rasanya sangatlah sesuai dengan cinta, sebab cinta mampu menyesuaikan dengan setiap sisi bahasa yang digunakan. Kelihaian cinta dalam mengguratkan kebahagiaan disetiap selaksa kehidupan sangat terasa bagi mereka yang menterjemahkan cinta sebagai "BIANG" kebahagiaan. Apalagi yang dicari jika bukan cinta sejati, begitu setiap manusia menghendaki. Berkeringat peluh dan bercucuran darah kesah menjadi perumpamaan bagi setiap insan yang mendambakan kebahagiaan dari setiap sentuhan mesra cinta dalam kehidupan. Kalaupun terkadang cinta tidak lagi diterjemahkan dalam relung bahagia, maka bisa dipastikan jika cinta itu telah ternoda oleh sebab perilaku yang tak bersahaja dan mengamit mulia. Relung hati yang terdalam adalah tempat terindah berlindungnya cinta. Disana cinta begitu dimuli...

MEMBANGUN KREATIFITAS

THINKERTOYS "Handbook" Permainan Berpikir para Pebisnis Kreatif. Mengoptimalkan sinergi otak kanan dan otak kiri . Thinkertoys merangsang setiap orang untuk mendapatkan ide baru. Thinkertoys merupakan teknik spesifik dan praktis yang dapat menghasilkan ide besar atau kecil: untuk menghasilkan uang, menyelesaikan masalah, memenangi persaingan, atau meningkatkan karier. Yang pasti, teknik-teknik ini akan membantu Anda memiliki ide untuk menghasilkan produk baru dan cara baru melakukan sesuatu. Thinkertoys ini … Mengubah setiap orang menjadi pemikir kreatif — CreativeMind Menunjukkan bagaimana melakukan hal yang dianggap tak mungkin — The Futurist Orkestra berpikir-kreatif dalam sebuah buku yang akan melejitkan imajinasi — Chicago Tribune Menunjukkan bagaimana mengembangkan imajinasi — Newsweek Akan mengubah cara berpikir — Wall Street Journal Salah satu buku bisnis terpenting dasawarsa ini — Women in Business Salah satu buku bisnis terbaik — majalah success Akan...